Pilihan Yang Berat

0
560
Pilihan Yang Berat

INI KISAHKU…
PILIHAN YANG BERAT
Teruntuk Santri dan Alumni Ibadurrahman Stabat
——————
Ketika masih nyantri di pesantren, saya pikir segera tamat itu indah.
Setelah di wisuda baru saya sadar ternyata jadi santri paling indah.

Pilihan yang berat adalah ketika pesantren memberikan ultimatum, bahwa syarat kelulusan adalah menjalani pengabdian selama satu tahun.

Sayapun mengawali langkah menuju kota Tanjung Balai.
Berbekal ilmu agama selama 6 tahun di pesantren, dan pengalaman berhubungan dengan masyarakat yg minim. Cukup membuat saya kebingungan harus memulai dakwah dari mana.

Enam bulan berlalu, Heboh di media memberitakan gempa dan tsunami yang maha dahsyat. Memakan korban mencapai 200ribuan lebih. Hati ini terpanggil, untuk turut bergabung dengan para relawan disana.

Setelah menempuh perjalanan panjang, sayapun sampai di kota Moelaboh yaitu kota terparah yang terkena dampak tsunami….
Subhanallah…
Pemandangan seperti kota mati yang di kutuk.
Menjadi relawan selama 6 bulan, banyak mengajarkan saya pengalaman hidup.
Pagi jam 8 ngajar di SMP Negeri, Siang jam 2 ngajar di MAN dan maghribnya mengisi tausiah agama. Inilah rutinitas harian yg saya jalankan selama di Aceh.
Saya adalah pendengar setia mereka ketika bercerita kepiluan yang mereka rasakan. Ada yg ibunya meninggal hanyut, ada yang seluruh keluarganya hilang, dll
Kalau liburan, sayapun membantu para relawan lain untuk mencari mayat2 yang tertimbun bangunan untuk di makamkan.

Tidur di tenda tanpa lampu penerangan adalah malam yang begitu panjang yang kami lalui setiap hari. Ngaungan suara anjing yang mengelilingi tenda kami, semangkin membuat suasana mencekam.
Tak heran kalau salah satu teman saya satu tenda langsung minta pulang krn ketakutan.

Pilihan yang berat yang harus saya pilih adalah ketika saya harus meninggalkan kota Moelaboh. Kedekatan dengan masyarakat dan tokoh agama di sana cukup menyesakkan dada kala meninggalkan mereka yang bercucuran air mata.
“Ustadz…kapan ustadz akan kembali ke sini…?”
Pertanyaan yang hanya bisa saya jawab dengan senyuman.

Ini pengalaman singkat saya dalam pengabdian…
Para Alumni, ukirlah cerita manismu dalam pengabdian…
Jangan mengeluh, krn kepahitan yg di rasakan saat ini akan menjadi cerita manis esok hari…
—–

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY